Hadomi RAI TIMOR LESTE

APAKAH KAMI HARUS MENINGGALKAN DILI ATAU BERTAHAN DI DILI? Hari ini, 20 Desember 2014, ritual "menghitung hari" menanti kunjungan GPS (Gempa Pangeran Surya) di Kota Dili, telah memasuki "bilangan ke-127". Hitungan dimulai dari angka O (nol) pada 15 Agustus 2014. Sebagaimana telah saya sampaikan beberapa kali sebelumnya bahwa; "Kerangka waktu kunjungan GPS berada di garis (waktu) yang menghubungkan dua titik waktu, yakni: 15 Agustus 2014 - 15 Agustus 2015". Dengan memperhatikan kerangka waktu di atas, maka jika ada GEMPA mengguncang Kota Dili di luar garis (waktu) tersebut di atas, itu bukan melambangkan (simbol) GPS. Misalnya, ternyata pada 16 Agustus 2015, baru terjadi gempa dahsyat di Kota Dili. Maka itu bukan GPS. Kerangka waktu 15 Agustus 2014 - 15 Agustus 2015, itu ada maknanya tersendiri yang tidak akan saya jelaskan jika GPS tidak jadi mengunjungi Kota Dili. Banyak teman Facebookers bertanya; "Apakah kami harus meninggalkan Dili untuk menghindari kunjungan GPS atau bertahan di Dili?" Jujur, saya sulit menjawab pertanyaan ini. Karena saya sendiri hanya PERCAYA, bahwa GPS pasti datang dalam kerangka waktu di atas. Tapi saya tidak tahu pasti berapa kekuatan (skala Ritcher) dari GPS? Bisa gempa dahsyat yang meluluh-lantakkan Kota Dili dan isinya, atau bisa juga hanya gempa biasa (gempa ringan, skala kecil) yang tidak menimbulkan kerusakan apapun. Maka saya tetap berpegang pada saran saya sebelumnya. Masyarakat Kota Dili tetaplah lakukan 3B (Berdoa, Bertobat & Bertirakat) sambil berserah diri (pasrah total) pada Kuasa Ilahi. Karena berbicara mengenai GEMPA, kita berbicara sesuatu yang ada di luar kemampuan dan kuasa manusia untuk mengontrolnya. JIKA GPS TIDAK DATANG MAKA SEMUA IDE(OLOGI) GUGUR TOTAL Saya telah berkali-kali menuliskan dalam sejumlah artikel sebelumnya bahwa, GPS dan THESIS yang saya usung sebagai thema sentral di Piala Dunia 2014 di Brasil, yakni; "Timor Leste sebagai TANAH TERJANJI", adalah SATU PAKET. Jadi GPS harus datang untuk mengafirmasi THESIS saya di Piala Dunia 2014 bahwa; "Timor Leste itu memang benar-benar TANAH TERJANJI", walaupun GPS bukanlah "pembuktian terakhir". Masih ada "pembuktian bertingkat berikutnya. Kalau ternyata sampai 15 Agustus 2015 berakhir, GPS tidak jadi mengunjungi Kota Dili, maka itu artinya THESIS saya di Piala Dunia 2014 yang telah terbukti bertahan pada 10 Juli 2014 (ketika Argentina mengalahkan Belanda melalui drama adu PENALTI), dengan sendirinya GUGUR. Dan jika THESIS saya di Piala Dunia 2014 mengenai TANAH TERJANJI gugur, maka akan menghasilkan satu "domino effect", yaitu semua IDE(ologi) yang selama ini saya sampaikan, dengan sendirinya GUGUR TOTAL. Jika thesis "Timor Leste sebagai TANAH TERJANJI" gugur, maka THESIS mengenai "Timor Leste sebagai NEGARA KERAJAAN", sebagaimana saya usung pada Piala Eropa 2012 dan Piala Dunia 2010 di Afrika Selatan, juga gugur. Jika thesis NEGARA KERAJAAN gugur, maka salah satu isu penting yang selama ini selalu saya angkat, yakni; Tanah Timor (Leste) itu diciptakan ALLAH dengan tujuan khusus untuk MERESTAURASI HUKUM SABAT, juga ikut gugur. Jika HUKUM SABAT gugur, maka dengan sendirinya isu penting lainnya yang selama ini saya singgung, yaitu; KURSI ANAK DAUD, juga ikut gugur. Karena berbicara mengenai HUKUM SABAT, kita berbicara mengenai Perintah ALLAH yang ke-4. Pata tataran Teologi Bilangan, angka 4 itu sering (oleh Ahli Bilangan) disebut sebagai satu-satunya bilangan yang "menyerupai KURSI". Tapi KURSI-nya adalah KURSI TERBALIK. Coba ambil lah alat tulis dan tuliskan angka 4 sebagai KURSI TERBALIK. Pasti kelihatannya unik. Apa artinya KURSI TERBALIK? Artinya, KURSI tersebut, KAKI-nya bertumpu di Langit dan KEPALA-nya berjuntai ke Bumi. Jika KURSI TERBALIK ini dimodifikasi ke dalam "pengertian & pemaknaan yang lain", maka yang dimaksud dengan KURSI TERBALIK di sini adalah SIMBOL KEKUASAAN yang datangnya dari ALLAH, bukan dari dunia, apalagi KEKUASAAN yang diperoleh melalui "HUKUM DEMOKRASI". Jika Timor Leste itu TANAH TERJANJI, maka berdasarkan apa yang saya saksikan pada Minggu, 20 Februari 1994 di Kaki Gunung Ramelau, hukumnya HARAM, kalau orang Timor Leste mendirikan NEGARA REPUBLICA DEMOCRATICA (yang menghasilkan bilangan 666) di atas TANAH TERJANJI. Jika Timor Leste itu benar-benar TANAH TERJANJI, maka hukumnya wajib, di atas TANAH TERJANJI, harus didirikan NEGARA KERAJAAN. Dan Kerajaan itu adalah KERAJAAN DAUD, sesuai dengan "bilangan kemenangan" (344.580) yang muncul pada hasil REFERENDUM yang diumumkan pada hari SABAT, 4 September 1999. Karena Kerajaan itu adalah KERAJAAN DAUD, maka yang berhak menduduki TAHTA DAUD adalah, DARAH DAUD secara BIOLOGIS. Tiba di sini muncul pertanyaan; "Mungkinkah saat ini (setelah RIBUAN TAHUN berlalu, dunia tidak pernah lagi mendengar tentang KETURUNAN DAUD secara BIOLOGIS), tiba-tiba DARAH DAUD itu muncul?" Ingat...!!! Kitab Suci berkata; "Apa yang tidak mungkin bagi manusia, mungkin bagi ALLAH". Jika ALLAH memutuskan untuk menyembunyikan DARAH DAUD secara BIOLOGIS hingga RIBUAN TAHUN lamanya, dan waktunya kini telah genap bagi ALLAH untuk membangkitkan kembali DARAH DAUD di Milenium 3 ini, guna MENDUDUKI TAHTA DAUD sesuai JANJI TUHAN, sebagaimana tertulis dalam ALKITAB, adakah manusia yang mampu membatalkan rancangan ALLAH? Sekedar satu intermezzo; "Jika KETURUNAN DAUD secara BIOLOGIS tidak ada, dan keterlibatan Indonesia atas Timor-Timur tidak ada hubungannya dengan KETURUNAN DAUD, mengapa Presiden Soeharto harus bertemu dengan Presiden USA, Gerald Ford di Camp David USA pada 5 Juli 1975? Dan selang 155 hari, dari pertemuan Camp David, Indonesia melakukan INVASI atas wilayah Timor Portugis pada 7 Desember 1975? Mengapa harus 155 hari? Sekedar kebetulankah?" Coba Anda konversikan semua huruf dalam dua frasa KETURUNAN DAUD ke dalam bilangan berdasarkan abjad Latin. Bukankah hasilnya = 155? (KETURUNAN DAUD; K=11, E=5, T=20, U=21, R=18, U=21, N=14, A=1, N=14, D=4, A=1, U=21, D=4. Total; 11+5+20+21+18+21+14+1+14+4+1+21+4 = 155). "Kalau keterlibatan Indonesia atas Timor-Timur tidak ada hubungannya dengan KETURUNAN DAUD, mengapa USIA INTEGRASI harus 23 TAHUN?" (17 Juli 1976 - 17 Juli 1999). Masyarakat Timor Leste sebaiknya "mencermati, merenungkan dan memaknai" Penampakan TUHAN kepada Ibu DOMINGAS pada Hari Minggu, 26 Oktober 2014 di Taibesse Dili, sebagaimana telah saya tuliskan dalam 3 artikel sebelumnya, ketika TUHAN turun dari Surga membawa seorang ANAK KECIL, meletakkan ANAK KECIL itu sampai KAKI-nya menapaki TANAH di Pasar TAIBESSE Dili, dan setelah itu TUHAN membawa kembali ANAK KECIL itu ke Surga. Setelah tiba di Surga dan menghilang dari pandangan Ibu Domingas, yang kemudian muncul dari Surga adalah "Peta Wilayah Timor Leste". Apa arti penampakan ini? Bagaimana kalau saya, atas PENAFSIRAN PRIBADI, memaknai bahwa ANAK KECIL yang dibawa TUHAN turun dari Surga dan meletakkannya di Pasar Taibesse Dili, dan kemudian dibawa TUHAN kembali ke Surga, adalah pertanda bahwa; "Waktunya telah genap bagi ALLAH untuk membangkitkan KETURUNAN DAUD secara BIOLOGIS, guna MENDUDUKI TAHTA DAUD? Penafsiran pribadi ini akan gugur dengan sendirinya jika GPS tidak mengunjungi Kota Dili sampai 15 Agustus 2015 berakhir. Ini sama artinya saya sebenarnya selama ini hendak berkata; "Yang dimaksud dengan PANGERAN SURYA, tidak lain dan tidak bukan, adalah KETURUNAN DAUD secara BIOLOGIS. Artinya pula, jika KETURUNAN DAUD secara BIOLOGIS itu sudah tidak lagi hidup di bumi saat ini, maka percayalah; "GPS tidak akan pernah mengunjungi Dili sebelum 15 Agustus 2015 berakhir". Uraian ini sama halnya dengan saya sebenarnya hendak mengatakan kepada Pembaca bahwa; "GPS itu memiliki sejumlah PRASYARAT". Apa saja PRASYARAT itu? Antara lain, ada 5; (1). Jika Timor Leste itu = TANAH TERJANJI
(2). Jika Timor Leste itu = NEGARA KERAJAAN
(3). Jika Timor Leste itu = TAHTA DAUD
(4). Jika Timor Leste itu = HUKUM SABAT
(5). Jika Timor Leste itu = KETURUNAN DAUD SECARA BIOLOGIS Salah satu saja PRASYARAT di atas tidak terpenuhi, maka percayalah; GPS tidak akan pernah mengunjungi Kota Dili sebelum 15 Agustus 2015 berakhir. Jika itu yang terjadi, maka saya akan memenuhi JANJI saya untuk tidak pernah lagi menapakkan kakiku di Kota Dili sepanjang sisa hidup saya. Dengan memperhatikan uraian ini, maka dalam menjawab pertanyaan dari rekan-rekan Facebookers; "Apakah harus meninggalkan Dili atau tetap bertahan di Dili?" Saya kembalikan sepenuhnya kepada rekan-rekan untuk memutuskan sendiri. "Berpikir, berkehendak dan memutuskan; adalah pokok dasar kegiatan. Yang satu tidak bisa berasal dari yang lain. Tetapi, meski masing-masing mempunyai sifat-sifat umum, tetap tidak pernah bisa merosot menjadi sebutan-sebutan yang bersifat umum" (Hannah Arendt; Filsuf Politik Amerika kelahiran Jerman, yang pernah hidup antara 1906 - 1975). Selamat berakhir pekan. Selamat merayakan SABAT SUCI bagi mereka yang merayakannya. Salam DUA HATI dari BUKIT SULAIMAN. Semoga DUA HATI senantiasa melindungi Nusantara dan memberkati kita semua (hitam & putih). Amin.